Air Laut Meluap di Pesisir Jangkar, Pemkab Situbondo Siapkan Tanggul Penahan Ombak

Air Laut Meluap di Pesisir Jangkar, Pemkab Situbondo Siapkan Tanggul Penahan Ombak

SITUBONDO — Pemerintah Kabupaten Situbondo merencanakan pembangunan tanggul penahan ombak di pesisir Desa Jangkar, Kecamatan Jangkar, menyusul aduan warga terkait jebolnya tangkis ombak yang kerap memicu banjir rob setiap tahun.

Aduan tersebut mencul setelah air laut kembali merendam permukiman warga dalam beberapa waktu terakhir, merusak perabot rumah tangga, serta mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kondisi itu diperparah oleh tangkis ombak lama yang dinilai sudah tidak lagi mampu menahan gelombang, terutama saat pasang laut tinggi dan angin kencang.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah meninjau langsung pesisir Desa Jangkar, Kecamatan Jangkar, Rabu (14/1/2025). Peninjauan dilakukan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca). 

“Berdasarkan laporan warga, wilayah pesisir ini memang terdampak banjir rob dan sudah berlangsung bertahun-tahun. Karena itu, hari ini kami turun langsung ke lapangan,” ujar Wakil Bupati yang akrab disapa Mbak Ulfi itu.

Mbak Ulfi menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Situbondo berencana membangun tanggul penahan ombak sepanjang sekitar 200 meter dengan tinggi kurang lebih 3 meter menggunakan dana Belanja Tidak Terduga (BTT).

Rencana tersebut telah dikoordinasikan dengan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo. “Setelah kami berembuk dengan Mas Bupati, beliau menyetujui pembangunan tanggul penahan ombak ini melalui dana BTT. Pelaksanaannya akan difasilitasi pemerintah desa, kecamatan, serta BPBD agar prosesnya berjalan cepat,” kata Mbak Ulfi.

Menurut dia, warga pesisir Desa Jangkar hampir setiap tahun harus bersiap menghadapi banjir rob, terutama saat cuaca ekstrem. Karena itu, warga berharap adanya tangkis ombak permanen sebagai solusi jangka panjang agar gelombang laut tidak lagi masuk ke rumah-rumah mereka.

“Paling tidak, sudah ada penyangga ombak sehingga air laut tidak langsung masuk ke permukiman. Kami berharap ini bisa segera terealisasi dan berjalan lancar,” ujarnya.

Selain itu, Mbak Ulfi mengimbau para nelayan agar memperhatikan kondisi cuaca sebelum melaut. Angin kencang dan gelombang tinggi yang kerap terjadi belakangan ini dinilai berpotensi membahayakan aktivitas penangkapan ikan.

“Nelayan perlu memastikan kondisi cuaca terlebih dahulu untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," pungkasnya.[]

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index