Sejarawan UI Jelaskan Anyer–Panarukan 3R, Sejarah Jalan Raya Pos Harus Utuh

Sejarawan UI Jelaskan Anyer–Panarukan 3R, Sejarah Jalan Raya Pos Harus Utuh

JAKARTA – Pengembangan program Anyer–Panarukan 3R perlu disertai dokumentasi sejarah yang akurat dan pembacaan kritis terhadap konteks pembangunan Jalan Raya Pos pada masa kolonial. Pendekatan tersebut penting agar pengembangan warisan sejarah tidak hanya berorientasi pada pariwisata, tetapi juga memperkuat identitas masyarakat di sepanjang jalurnya.

Hal itu disampaikan Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Prof. Dr. Djoko Marihandono, S.S., M.Si., dalam konteks pengembangan program Anyer–Panarukan 3R yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Situbondo dan Pemerintah Kabupaten Serang.

Program tersebut diluncurkan dalam Kick Off Anyer–Panarukan 3R di Auditorium Bank BJB, Jakarta Selatan, Minggu (11/10/2026).

Djoko menekankan, Jalan Raya Pos tidak cukup dipahami hanya sebagai infrastruktur peninggalan masa lalu. Jalur tersebut perlu dikaji menggunakan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan serta dikaitkan dengan perubahan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.

“Jalan Raya Pos tidak cukup dipahami hanya sebagai infrastruktur peninggalan masa lalu. Jalur ini perlu dikaji melalui sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus dibaca dalam konteks perubahan masyarakat, kebudayaan, dan kehidupan ekonomi di sepanjang jalurnya. Dengan begitu, pengembangan warisan sejarah dapat tetap berpijak pada fakta dan memberi makna bagi generasi sekarang,” kata Djoko.

Menurutnya, penyampaian sejarah Jalan Raya Pos juga perlu dilakukan secara utuh, termasuk dengan menjelaskan konteks kolonial dan pengalaman masyarakat pada masa pembangunannya.

Pendekatan tersebut menjadi penting ketika warisan sejarah dikembangkan sebagai bagian dari destinasi wisata, promosi budaya, maupun kegiatan ekonomi kreatif.

Dalam program Anyer–Panarukan 3R, salah satu agenda yang disiapkan adalah ekspedisi penelusuran jalur Jalan Raya Pos. Kegiatan ini diarahkan untuk memetakan situs bersejarah, kondisi jalur, cerita masyarakat, potensi wisata, serta produk unggulan UMKM.

Hasil ekspedisi diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan dokumentasi sejarah sekaligus pengembangan paket wisata dan promosi budaya di berbagai wilayah.

Di Situbondo, penguatan narasi sejarah dapat dihubungkan dengan Panarukan, Kota Tua Besuki, Pendopo Pate Alos, tradisi lokal, serta produk unggulan seperti kopi, batik, kuliner, dan kerajinan.

Keterhubungan antara sejarah, identitas lokal, dan potensi ekonomi tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat dalam pelestarian warisan budaya sekaligus mengembangkan usaha berbasis potensi daerah.

Program Anyer–Panarukan 3R mengusung tiga konsep, yakni Road sebagai jalan bersejarah dan penghubung antardaerah, Route sebagai koridor perjalanan dan destinasi, serta Roots sebagai penguatan akar sejarah, budaya, identitas, dan kearifan lokal.

Selain melibatkan pemerintah daerah dan akademisi, program ini juga membuka ruang partisipasi generasi muda melalui dokumentasi digital, produksi konten sejarah, kompetisi video, dan festival budaya.

Dengan dokumentasi yang akurat dan pelibatan masyarakat, pengembangan Jalan Raya Pos diharapkan dapat menjaga nilai sejarah sekaligus memberi manfaat bagi generasi sekarang dan mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index