Polemik Nama Bandara Kiai As'ad, Pengamat: Ketua PCNU Situbondo Juga Politisi

Minggu, 30 November 2025 | 17:03:01 WIB
Yuda Yulianto, dosen sekaligus pengamat kebijakan publik.

SITUBONDO – Polemik penamaan Bandara KHR. As’ad Syamsul Arifin di Banongan, Situbondo, memantik tanggapan dari pengamat kebijakan publik, Yuda Yulianto. Ia menilai respon pubilk, termasuk dari Ketua PCNU Situbondo, perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.

“Ustad Muhyi itu jangan hanya dipandang sebagai ustad, tetapi juga sebagai politisi, sebab beliau pernah menjadi pengurus partai,” kata Yuda ketika dimintai tanggapan, Minggu (30/11/2025).

Yuda menegaskan ia mendukung penuh penggunaan nama KHR. As’ad Syamsul Arifin (KASA) untuk bandara baru tersebut. Menurutnya, mayoritas warga Situbondo memandang pengambilan nama tokoh besar Sukorejo itu sebagai bentuk penghormatan atas jasa ulama kharismatik yang memiliki peran strategis dalam sejarah daerah maupun nasional.

“Kiai As’ad dikenal sebagai tokoh nasional yang berperan penting dalam pendidikan pesantren, dakwah kebangsaan, serta kontribusinya membela keutuhan NKRI,” ujar Yuda.

Alumnus Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo juga mengingatkan bahwa pemerintah telah menetapkan Kiai As’ad sebagai Pahlawan Nasional—status yang menegaskan bobot ketokohannya.

Selain peran kebangsaan, Yuda menilai Kiai As’ad merupakan figur sentral dalam penyebaran Islam di kawasan tapal kuda sekaligus penguat nilai moderasi beragama di Indonesia. Karena itu, ia menyebut penamaan bandara memiliki nilai historis dan kultural yang tidak dapat dinafikan.

“KHR As’ad Syamsul Arifin bukan hanya tokoh Situbondo, beliau adalah aset bangsa,” kata lulusan Universitas Abdurahman Saleh itu.

Menurut Yuda, identitas daerah akan semakin kuat ketika simbol-simbol publik mencerminkan nilai lokal yang dijunjung masyarakatnya. Ia menyebut nama bandara itu kelak menjadi kebanggaan warga, sekaligus menegaskan Situbondo sebagai daerah yang dekat dengan tradisi pesantren.

“Bandara bukan hanya infrastruktur; ia juga representasi identitas,” ujarnya.

Penamaan bandara, kata Yuda, dapat memberi kedekatan emosional antara masyarakat dan fasilitas publik tersebut. Ia menyebut penggunaan nama tokoh agama yang dihormati akan membawa 'keberkahan sosial' serta mempererat hubungan warga dengan ruang publik mereka sendiri.

Yuda pun menilai penetapan nama Bandara KHR. As’ad Syamsul Arifin merupakan langkah tepat dan layak. Ia menyebutnya sebagai tonggak sejarah baru bagi Situbondo: penghargaan terhadap tokoh besar yang jasanya menembus batas agama, daerah, dan bangsa.

“Penetapan nama ini bukan hanya layak secara kultural, tetapi juga simbol penghormatan yang merepresentasikan identitas religius dan kultural Situbondo,” pungkasnya.[]

Terkini